Sehari setelah Ardi berjanji kepadaku hubungan persahabatan kami menjadi lebih baik daripada hari hari kemarin apalagi setelah Ardi memiliki kekasih yaitu Rita. Kami mulai sering mengobrol kembali, kami mulai sering kembali bermain bersama kembali meskipun sesekali Ardi mengajak Rita bermain bersama kami, meskipun aku merasa tidak nyaman jika ada Rita diantara kita berdua, sangat tidak nyaman rasanya karena jika ada Rita seluruh perhatian Ardi akan tertuju pada Rita dan bukan padaku dan jika Rita ikut bermain bersama kami, seperti ada tembok yang tinggi dan tebal yang membuat jarak antara aku dan Ardi meskipun kami sedang bermain bersama namun kami merasa tidak menyatu seperti biasanya, ada rasa canggung yang aneh diantara diri kita masing masing. Aku selalu berharap dan akan selalu berharap bahwa Ardi akan menepati janjinya yang telah ia ucapkan padaku beberapa waktu lalu.
Sedikit demi sedikit sikap Ardi mulai berubah kembali seperti dulu, Ardi yang selalu sibuk dengan kekasih barunya. Dan Ardi yang sepertinya sudah mengabaika diriku kembali sebagai sahabatnya terlebih dia sudah mengabaikan janjinya padaku beberapa waktu lalu. Ardi hanya mampu menepati janjinya kurang lebih satu – dua minggu saja, waktu yang sangat singkat yang Ardi lakukan hanya untuk menepati janjinya padaku namun setelah waktu tersebut lewat, Ardi kembali seperti orang asing bagiku. Ardi mungkin tidak akan merasakan perubahan dalam dirinya namun hanya orang orang yang dekat dengannya lah yang dapat merasakan perubahan sikapnya belakangan ini. Dan aku sempat berfikir “apakah Ardi sudah benar benar melupakan janjinya padaku, atau sebenarnya Ardi sudah melupakan persahabatan kita” entahlah sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang dapat menjawan seluruh pertanyaan tentangnya.
Beberapa hari ini Ardi jarang terlihat di komplek kami atau entah aku yang terlalu sibuk, namun yang aku dengar dari ibu ibu gossip yang selalu mejeng mejeng didepan rumahku Ardi sudah 2 hari tidak pulang kerumah. Dan saat aku mengetahui hal tersebut dengan sontak aku langsung berkata “hah ? Ardi ga pulang 2 hari bu ? kenapa?” dan ibu ibu tersebut menjawabnya bersamaan “orang tua Ardi akhir akhir ini selalu bertengkar, dan dari kabar yang kami dengar orang tuanya akan mengadakan siding perceraian dalam waktu dekat. Mungkin karena Ardi stress atau penat dengan kondisi rumah, sehingga ia memutuskan untuk tidak pulang sementara waktu atau bahkan selamanya” jelas salah satu ibu ibu dalam gerombolan tersebut. Saat aku mendengar bahwa tante Rina dan om Roni akan cerai sepertinya tidak mungkin karena mereka terlihat selalu akur dan sepertinya mereka keluarga yang berbahagia, orang tua Ardi selalu ada waktu untuknya dan kaka kakanya, tidak seperti orang tuaku yang selalu sibuk denhan urusan bisnisnya entah itu di luar kota ataupun di luar negri, dan mereka hampir tidak memiliki waktu untukku setidakny menghabiskan weekend bersama tapi mereka selalu sibuk dengan urusan emreka masing masing. Lamunanku kembali terbuyar oleh suara salah satu ibu yang mengagetkanku “kenapa mba nanya gitu ? emangnya mba ga tau ya kalau mas Ardi ga pulang ? bukannya mba temen deketnya mas Ardi ?” dan aku langsung menjawabnya “ooohhh engga saya cuman ingin tahu saja bagaiman kabar Ardi. Kita sudah lama tidak bertemu karena mungkin kami mempunyai urusan yang berbeda dan kami sama sama sibuk sehingga kami tidak dapat bertemu, oh iya bu makasih ya infonya” kataku terburu buru sambil masuk ke dalam rumah.
Akupun masih bertanya Tanya mengapa om Roni dan tante Rina bisa sampai cerai. Dan mengapa Ardi tidak pulang 2 hari belakangan ini ? kemana Ardi ? aku tau Ardi bukan orang yang selalu lari dari masalah, tapi kenapa sekarang Ardi malah lari dari masalah yang sebenarnya harus Ardi hadapi, ini menyangkut kalangsungan keluarga dia, tapi mengapa Ardi malah pergi dari masalah ?
Keesokan harinya aku masih bertanya Tanya dalam hati mengapa Ardi menjadi seperti itu, ini benar benar bukan Ardi yang aku kenal. Saat aku sampai disekolah, aku tidak langsung masuk kekelas, namun aku menyempatkan dulu mampir kekelas Ardi, namun aneh saat aku menanyakan kepada tommy teman sebangku Ardi, namun saat aku menghampiri tommy, tommy pun berkata “eh nay. Kebetulan banget kamu kesini, aku mau nanyain kenapa Ardi dari kemarin ko ga masuk sekolah ? dia sakit ?” katanya. Dan dengan heran aku menjawab “hah Ardi ga masuk dari kemarin ? serius tom ? terus terakhir kali dia masuk kapan ? aku kesini juga mau nanyain Ardi, soalnya Ardi dari 3 hari yang lalu ga pulang kerumah, dikira aku kamu tau tom, haduh Ardi kemana ya ? yaAllah Ardi kemana” kataku dengan nada khawatir, saat mendengar hal tersebut tommy pun merasa aneh karena tommypun sudah mengenal Ardi lama sepertiku, dan kami berdua tau Ardi bukan tipe orang yang mencari gara” apalagi menyangkut pendidikan. “loh ko ? kenapa Ardi belum pulang dari 3 hari yang lalu?” Tanya tommy. Dan aku pun menjawab “katanya sih ortunya lagi ada masalah gitu lah, dan Ardi terancam brokenhome kata ibu ibu yang suka mejeng dideket rumah aku sih gitu ngomongnya. Aku juga jadi heran sama Ardi yang sekarang, beda banget sama Ardi yang dulu, eh iya tom, siapa tau Rita tau Ardi kemana, aku mau nyamperin Rita dulu ya” kataku, “oh iya betul itu, aku ikut nay.” Katanya sambil mengejarku. Sepanjang jalan kami mencari rita, kami terus menerus berdebat mengapa Ardi sampai berubah seperti ini, dan aku sempat berfikir, apakah Rita penyebab perubahan Ardi selama ini, karena semenjak Ardi pacaran dengan Rita, Ardi menjadi berubah 180 derajat.
Dan akhirnya kami bertemu juga dengan Rita di kantin sekolah, saat it Rita sedang bersama teman teman gengnya entah sedang membicarakan apa. Dan saat itu aku dan tommy langsung menghampiri mereka “rita, tau Ardi dimana ga?” tanyaku dan Rita menjawab “yeh mana gue tau, cari aja sendiri gausah Tanya Tanya gue” jawabnya “loh ko kamu gitu rit ? kamu kan pacarnya Ardi kenapa kamu gapeduli sama Ardi ?” tanyaku kembali. Dan Rita menjawab “ buat apa gue perduli ke Ardi toh Ardinya aja ga peduli sama pacarnya sendiri, dan dia lebih perduli ke sahabatnya sendiri” katanya sambil mendorong bahuku hingga aku hampir terjatuh. “loh ko lo jadi nyolot gini sih ke nayla, biasa aja dong rit, kita itu dateng baik baik cuman buat nanyain kabar Ardi doang, bukan mau ngajak ribut” kata tommy. “eh dia yang nyolot duluan ko gue yang disalahin, hello lo ganyadar atau lo udah dibutain cinta lo ke nayla TOMMY?” katanya sambil berdiri meghampiriku. “udah lah tom, kalau Rita gamau ngasih tau dimana Ardi yaudah, kita gamua ribut sama dia. Ayo kita pergi udah bel masuk juga” kataku sambil mengajak tommy pergi menghindari Rita.
Saar memulai pembelajaran aku benar benar tidak dapat berfikir dengan baik, karena fikiranku terus menerus memikirkan Ardi, kemana perginya Ardi. Dan pulang sekolah pun tiba, aku kembali diantar oleh tommy pulang, namun disaat kami hendak pulang aku melihat Ardi sedang berada di salah satu tempat nongkrong salah satu geng disekolah kita. setauku selama ini Ardi tidak mengikuti organisasi selain didalam sekolah, apalagi mengikuti geng geng seperti ini. “tom, itu Ardi buka sih ?” tanyaku sambil menunjuk laki laki yang sedang duduk di pojok dan sambil megisap sebatang rokok. Dan setau aku juga Ardi itu bukan seorang peroko, bahkan dia alergi terhadap rook. Namun mengapa ? mengapa Ardi sedang mengisap sebatang rook di tempat tongkrongan tersebut ??. setelah melihat lebih jelas, ternyata itu benar benar Ardi “ih iya nay itu Ardi, sejak kapan Ardi ikut kumpul kumpul disana ? dan sejak kapan dia jadi ngeroko ? wah nay udah ga bener nih Ardi parah” kata tommy pada ku. Aku dan tommy pun menghampiri Ardi. “di, ngapain disini ? kemana aja kamu ga pulang 3 hari ga sekolah 2 hari ? kamu kemana di ? kamu kenapa sih di ?” tanyaku sambil terus menerus menatap Ardi yang diam terus tanpa berkata kata, sesekali dia menghebuskan asap rook yang diisapnya ke dekat wajahku padahal dia tau, dan dia sangat sangat tau kalau aku itu adalah orang yang sama sekali tidak kuat dengan asap roko, namun kenapa Ardi seperti mensengaja mengeluarkan asap roko tersebut tepat didepan wajahku. Ardi belum menjawab semua pertanyaan ku tadi dan akupun berusaha membuatnya mau menjawab pertanyaanku dan akhirnya ia pun angkat bicara “apaan sih lo ? lo ga berhak ngatur bgarut hidup gue dan yang pasti lo bukan siapa siapa gue, jadi lo ga berhak campurin urusan gue !!” katanya sambil membentak bentakku. Dan aku sangat kaget ketika Ardi berbicara seperti itu padaku, tak pernah terbayangkan sahabat yang telah aku kenal lama tega mengatakan hal tersebut padaku. Tanpa basa – basi lagi aku langsung pergi berlari meninggalkan Ardi dan Tommy, untuk kesekian kalinya aku menangis karena Ardi, “ko ardi tega ngomong gitu, dia udah kaya kaka aku tapi ternyata dia ngga nganggep aku siapa – siapa, temen pun bukan apalagi sahabat ? aku ga nyangka Ardi sekejam itu” kataku dalam hati sambil terus menerus menahan tangisku. Setelah aku berada cukup dekat dengan motor Tommy aku melihat Tommy berlari mengejarku dan akhirnya dia berdiri disampingku dan terus memerhatikanku yang masih terus menerus menahan air mataku meski aku tau Tommy menyadari kalau mataku sudah berkaca-kaca semenjak aku mendengar ucapan Ardi padaku. “nay, kenapa ? kalau kamu butuh pundak aku, aku bisa ko minjemin pundak aku untuk kamu nay” katanya sambil terus menatapku yang masih belum berani menatap mata Tommy. “ngga tom, aku gapapa. Anter aku pulang sekarang ya tom, aku cape. Aku mau istirahat” kataku sambil mengajak tommy pulang. Dan akhirnya aku pulang dan sesampainya dirumah, aku langsung memasuki kamarku dan aku menumpahkan segala tangisanku, amarahku, dan rasa kecewaku pada Ardi dikamarku. Aku begitu kecewa sampai tangisan pun tidak sanggup mewakili rasa kecewaku pada Ardi. Rasanya baru kemarin Ardi berjanji padaku tidak akan mengulang perbuatan yang sama saat Ardi melupakan aku sebagai sahabatnya, namun sekarang Ardi mungkin tidak mau kenal aku lagi sampai bisa bisanya dia berkata seperti itu padaku. Mungkin bagi Ardi aku hanya perempuan manja yang terus menerus menuntut perhatiannya, namun bagiku Ardi adalah sahabat yang merangkap kaka, teman, saudara. Aku begitu kesepian saat Ardi belum ada dikehidupanku, aku anak tunggal dan kedua orang tuaku sibuk mengurus pekerjaannya masing masing, mereka hanya pulang saat liburan meskipun saat liburan mereka tidak sepenuhnya ada disampingku.
Satu taun yang lalu aku memiliki tetangga baru, dan tetangga baruku teryata memiliki anak laki laki yang seumuran denganku dan kebetulan kami bersekolah disekolah yang sama, sejak itu kami mulai dekat, keluarga Ardi sudah seperti keluargaku sendiri, terkadang orang tua Ardi sering mengajakku untuk makan malam bersama atau sekedar menghabiskan weekend bersama, hal yang tak pernah aku dapat dari orang tuaku terganti oleh hadirnya keluarga Ardi, keluarga keduaku. Kami sering menghabiskan waktu bersama sama, aku dan Ardi sering berjalan jalan ke pusat perbelanjaan yang ada dikota bandung bersama, kami sering mengerjakan PR bersama, bahkan kami melewati pergantian malam taun baru bersama. Tapi mengapa sekarang Ardi sampai melupakan hal hal yang telah kita lalui bersama, aku hanya ingin Ardi yang dulu bukan Ardi yang sekarang. Aku merasa penat dengan keadaanku yang sekarang, orang tuaku belum pulang dari tugasnya di luar negeri, sahabatku entah menghilang kemana, dan orang orang yang dekat denganku menjadi orang orag yang sangat asing belakangan ini. Saking penatnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah sebentar, hanya ingin menghirup udara segar, aku pun minta izin kepada mba ana orang rumah yang satu satunya tidak pergi meninggalkan aku sendiri jika orang tuaku pergi bekerja, orang yang telah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri, orang yang telah mengurusku dari mulai aku duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang aku duduk di bangku SMA. Mba Ana pun mengizinkan aku untuk berjalan jalan keluar rumah, karena mba Ana tau semua masalah yang sedang aku lalui.
Aku mengambil kunci mobilku yang telah lama tidak ku sentuh karena dulu kemana mana aku selalu menaiki motor matic merah milik Ardi, kemanapun dan kapanpun. Sekarang aku kembali mengendarai mobil sedan silverku yang sudah jarang sekali aku gunakan. Aku masuk kedalam mobilku dan aku mulai menginjak gas dan aku meninggalkan rumah. Saat aku keluar dari rumahku, aku melihat motor matic merah terparkir didepan rumah Ardi, sejuta pertanyaan berkecambuk dihadapanku “Ardi ada dirumah ?” “kenapa Ardi ga mampir kerumahku hanya untuk sekedar mengajakku berkeliling komplek ?” namun saat mengingat ngingatnya kembali air mataku menetes kembali, dan aku memutuskan untuk mengabaikan segala pertanyaan bodohku, dan aku meneruskan perjalananku. Aku memutuskan untuk terus melakukan perjalanan, tak tau arahku akan pergi kemana. Dan aku sedang memikirkan suatu tempat yang rasanya dapat membuat fikiranku tenang untuk sementara. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut. Tak lama kemudian aku sampai ditempat tersebut, tempat yang sama saat Ardi pertama kali mengajakku pergi, karena saat itu aku sedang memikirkan kedua orang tuaku yang sepertinya sudah tidak peduli denganku lagi. Saat itu, Ardi mampir kerumahku dan dia melihatku sedang menangis tanpa banyak basa basi ditariknya tangkanku dan aku disuruh memakai helm abu abunya dan kami pergi ketempat tersebut. Tempat yang sama dengan tempat yang aku kunjungi sekarang, tempat ini memang pantas disebut dengan tempat pemulihan jiwa , karena disini jauh dari keramaian dan disini kita bebas mengekspresikan kesedihan kita , amarah kita, kekecewaan, bahkan rasa bahagia kita. tempat ini masih sama dengan tempat yang aku kunjungi satu tahun lalu dengan Ardi, pohon pohon masih rimbun, suara gemercik air masih terdengar, karena tidak jauh dari tempat ini ada mata air. Yaah semuanya masih sama persis, namun sayang keadaannya yang berbeda, satu tahun yang lalu aku tidak pergi ketempat ini sendiri, aku ditemana oleh sahabat laki laki yang saat ini benar benar aku rindukan, Ardi. Terakhir aku kesini bersama Ardi saat kami mendapat surat kelulusan, kami melampiaskan segala kebahagian kami ditempat ini. Dan sekarang, aku akan melampiaskan segala kesedihanku ditempat ini juga. Aku menangis sa=esuka hatiku, sampai aku lupa waktu, aku menangis disatu pohon yang pernah Ardi tulisi nama kita berdua, dan rupanya nama tersebut masih ada sampai sekarang, meskipun sudah tidak sejalas dulu lagi. Tak terasa hari sudah mulai gelap dan aku memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang aku meraasa benar benar sedih, karena satu persatu orang orang yang dekat denganku pergi menjauhiku, orang yang ada dihidupku sekarang seperti orang asing bagiku. Dan aku benar benar merindukan mereka. Aku ingin mereka semua akan datang padaku dengan sifat yang dulu, mamah, papah, tante rina, om roni, Ardi.