Minggu, 21 Agustus 2011

“tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti, engkau pergi dengan JANJIMU YANG TELAH KAU INGKARI”


Sehari setelah Ardi berjanji kepadaku hubungan persahabatan kami menjadi lebih baik daripada hari hari kemarin apalagi setelah Ardi memiliki kekasih yaitu Rita. Kami mulai sering mengobrol kembali, kami mulai sering kembali bermain bersama kembali meskipun sesekali Ardi mengajak Rita bermain bersama kami, meskipun aku merasa tidak nyaman jika ada Rita diantara kita berdua, sangat tidak nyaman rasanya karena jika ada Rita seluruh perhatian Ardi akan tertuju pada Rita dan bukan padaku dan jika Rita ikut bermain bersama kami, seperti ada tembok yang tinggi dan tebal yang membuat jarak antara aku dan Ardi meskipun kami sedang bermain bersama namun kami merasa tidak menyatu seperti biasanya, ada rasa canggung yang aneh diantara diri kita masing masing. Aku selalu berharap dan akan selalu berharap bahwa Ardi akan menepati janjinya yang telah ia ucapkan padaku beberapa waktu lalu.
            Sedikit demi sedikit sikap Ardi mulai berubah kembali seperti dulu, Ardi yang selalu sibuk dengan kekasih barunya. Dan Ardi yang sepertinya sudah mengabaika diriku kembali sebagai sahabatnya terlebih dia sudah mengabaikan janjinya padaku beberapa waktu lalu. Ardi hanya mampu menepati janjinya kurang lebih satu – dua minggu saja, waktu yang sangat singkat yang Ardi lakukan hanya untuk menepati janjinya padaku namun setelah waktu tersebut lewat, Ardi kembali seperti orang asing bagiku. Ardi mungkin tidak akan merasakan perubahan dalam dirinya namun hanya orang orang yang dekat dengannya lah yang  dapat merasakan perubahan sikapnya belakangan ini. Dan aku sempat berfikir “apakah Ardi sudah benar benar melupakan janjinya padaku, atau sebenarnya Ardi sudah melupakan persahabatan kita” entahlah sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang dapat menjawan seluruh pertanyaan tentangnya.
            Beberapa hari ini Ardi jarang terlihat di komplek kami atau entah aku yang terlalu sibuk, namun yang aku dengar dari ibu ibu gossip yang selalu mejeng mejeng didepan rumahku Ardi sudah 2 hari tidak pulang kerumah. Dan saat aku mengetahui hal tersebut dengan sontak aku langsung berkata “hah ? Ardi ga pulang 2 hari bu ? kenapa?” dan ibu ibu tersebut menjawabnya bersamaan “orang tua Ardi akhir akhir ini selalu bertengkar, dan dari kabar yang kami dengar orang tuanya akan mengadakan siding perceraian dalam waktu dekat. Mungkin karena Ardi stress atau penat dengan kondisi rumah, sehingga ia memutuskan untuk tidak pulang sementara waktu atau bahkan selamanya” jelas salah satu ibu ibu dalam gerombolan tersebut. Saat aku mendengar bahwa tante Rina dan om Roni akan cerai sepertinya tidak mungkin karena mereka terlihat selalu akur dan sepertinya mereka keluarga yang berbahagia, orang tua Ardi selalu ada waktu untuknya dan kaka kakanya, tidak seperti orang tuaku yang selalu sibuk denhan urusan bisnisnya entah itu di luar kota ataupun di luar negri, dan mereka hampir tidak memiliki waktu untukku setidakny menghabiskan weekend bersama tapi mereka selalu sibuk dengan urusan emreka masing masing. Lamunanku kembali terbuyar oleh suara salah satu ibu yang mengagetkanku “kenapa mba nanya gitu ? emangnya mba ga tau ya kalau mas Ardi ga pulang ? bukannya mba temen deketnya mas Ardi ?” dan aku langsung menjawabnya “ooohhh engga saya cuman ingin tahu saja bagaiman kabar Ardi. Kita sudah lama tidak bertemu karena mungkin kami mempunyai urusan yang berbeda dan kami sama sama sibuk sehingga kami tidak dapat bertemu, oh iya bu makasih ya infonya” kataku terburu buru sambil masuk ke dalam rumah.
            Akupun masih bertanya Tanya mengapa om Roni dan tante Rina bisa sampai cerai. Dan mengapa Ardi tidak pulang 2 hari belakangan ini ? kemana Ardi ? aku tau Ardi bukan orang yang selalu lari dari masalah, tapi kenapa sekarang Ardi malah lari dari masalah yang sebenarnya harus Ardi hadapi, ini menyangkut kalangsungan keluarga dia, tapi mengapa Ardi malah pergi dari masalah ?
            Keesokan harinya aku masih bertanya Tanya dalam hati mengapa Ardi menjadi seperti itu, ini benar benar bukan Ardi yang aku kenal. Saat aku sampai disekolah, aku tidak langsung masuk kekelas, namun aku menyempatkan dulu mampir kekelas Ardi, namun aneh saat aku menanyakan kepada tommy teman sebangku Ardi, namun saat aku menghampiri tommy, tommy pun berkata “eh nay. Kebetulan banget kamu kesini, aku mau nanyain kenapa Ardi dari kemarin ko ga masuk sekolah ? dia sakit ?” katanya. Dan dengan heran aku menjawab “hah Ardi ga masuk dari kemarin ? serius tom ? terus terakhir kali dia masuk kapan ? aku kesini juga mau nanyain Ardi, soalnya Ardi dari 3 hari yang lalu ga pulang kerumah, dikira aku kamu tau tom, haduh Ardi kemana ya ? yaAllah Ardi kemana” kataku dengan nada khawatir, saat mendengar hal tersebut tommy pun merasa aneh karena tommypun sudah mengenal Ardi lama sepertiku, dan kami berdua tau Ardi bukan tipe orang yang mencari gara” apalagi menyangkut pendidikan. “loh ko ? kenapa Ardi belum pulang dari 3 hari yang lalu?” Tanya tommy. Dan aku pun menjawab “katanya sih ortunya lagi ada masalah gitu lah, dan Ardi terancam brokenhome kata ibu ibu yang suka mejeng dideket rumah aku sih gitu ngomongnya. Aku juga jadi heran sama Ardi yang sekarang, beda banget sama Ardi yang dulu, eh iya tom, siapa tau Rita tau Ardi kemana, aku mau nyamperin Rita dulu ya” kataku, “oh iya betul itu, aku ikut nay.” Katanya sambil mengejarku. Sepanjang jalan kami mencari rita, kami terus menerus berdebat mengapa Ardi sampai berubah seperti ini, dan aku sempat berfikir, apakah Rita penyebab perubahan Ardi selama ini, karena semenjak Ardi pacaran dengan Rita, Ardi menjadi berubah 180 derajat.
            Dan akhirnya kami bertemu juga dengan Rita di kantin sekolah, saat it Rita sedang bersama teman teman gengnya entah sedang membicarakan apa. Dan saat itu aku dan tommy langsung menghampiri mereka “rita, tau Ardi dimana ga?” tanyaku dan Rita menjawab “yeh mana gue tau, cari aja sendiri gausah Tanya Tanya gue” jawabnya “loh ko kamu gitu rit ? kamu kan pacarnya Ardi kenapa kamu gapeduli sama Ardi ?” tanyaku kembali. Dan Rita menjawab “ buat apa gue perduli ke Ardi toh Ardinya aja ga peduli sama pacarnya sendiri, dan dia lebih perduli ke sahabatnya sendiri” katanya sambil mendorong bahuku hingga aku hampir terjatuh. “loh ko lo jadi nyolot gini sih ke nayla, biasa aja dong rit, kita itu dateng baik baik cuman buat nanyain kabar Ardi doang, bukan mau ngajak ribut” kata tommy. “eh dia yang nyolot duluan ko gue yang disalahin, hello lo ganyadar atau lo udah dibutain cinta lo ke nayla TOMMY?” katanya sambil berdiri meghampiriku. “udah lah tom, kalau Rita gamau ngasih tau dimana Ardi yaudah, kita gamua ribut sama dia. Ayo kita pergi udah bel masuk juga” kataku sambil mengajak tommy pergi menghindari Rita.
            Saar memulai pembelajaran aku benar benar tidak dapat berfikir dengan baik, karena fikiranku terus menerus memikirkan Ardi, kemana perginya Ardi. Dan pulang sekolah pun tiba, aku kembali diantar oleh tommy pulang, namun disaat kami hendak pulang aku melihat Ardi sedang berada di salah satu tempat nongkrong salah satu geng disekolah kita. setauku selama ini Ardi tidak mengikuti organisasi selain didalam sekolah, apalagi mengikuti geng geng seperti ini. “tom, itu Ardi buka sih ?” tanyaku sambil menunjuk laki laki yang sedang duduk di pojok dan sambil megisap sebatang rokok. Dan setau aku juga Ardi itu bukan seorang peroko, bahkan dia alergi terhadap rook. Namun mengapa ? mengapa  Ardi sedang mengisap sebatang rook di tempat tongkrongan tersebut ??. setelah melihat lebih jelas, ternyata itu benar benar Ardi “ih iya nay itu Ardi, sejak kapan Ardi ikut kumpul kumpul disana ? dan sejak kapan dia jadi ngeroko ? wah nay udah ga bener nih Ardi parah” kata tommy pada ku. Aku dan tommy pun menghampiri Ardi. “di, ngapain disini ? kemana aja kamu ga pulang 3 hari ga sekolah 2 hari ? kamu kemana di ? kamu kenapa sih di ?”  tanyaku sambil terus menerus menatap Ardi yang diam terus tanpa berkata kata, sesekali dia menghebuskan asap rook yang diisapnya ke dekat wajahku padahal dia tau, dan dia sangat sangat tau kalau aku itu adalah orang yang sama sekali tidak kuat dengan asap roko, namun kenapa Ardi seperti mensengaja mengeluarkan asap roko tersebut tepat didepan wajahku. Ardi belum menjawab semua pertanyaan ku tadi dan akupun berusaha membuatnya mau menjawab pertanyaanku dan akhirnya ia pun angkat bicara “apaan sih lo ? lo ga berhak ngatur bgarut hidup gue dan yang pasti lo bukan siapa siapa gue, jadi lo ga berhak campurin urusan gue !!” katanya sambil membentak bentakku. Dan aku sangat kaget ketika Ardi berbicara seperti itu padaku, tak pernah terbayangkan sahabat yang telah aku kenal lama tega mengatakan hal tersebut padaku. Tanpa basa – basi lagi aku langsung pergi berlari meninggalkan Ardi dan Tommy, untuk kesekian kalinya aku menangis karena Ardi, “ko ardi tega ngomong gitu, dia udah kaya kaka aku tapi ternyata dia ngga nganggep aku siapa – siapa, temen pun bukan apalagi sahabat ? aku ga nyangka Ardi sekejam itu” kataku dalam hati sambil terus menerus menahan tangisku. Setelah aku berada cukup dekat dengan motor Tommy aku melihat Tommy berlari mengejarku dan akhirnya dia berdiri disampingku dan terus memerhatikanku yang masih terus menerus menahan air mataku meski aku tau Tommy menyadari kalau mataku sudah berkaca-kaca semenjak aku mendengar ucapan Ardi padaku. “nay, kenapa ? kalau kamu butuh pundak aku, aku bisa ko minjemin pundak aku untuk kamu nay” katanya sambil terus menatapku yang masih belum berani menatap mata Tommy. “ngga tom, aku gapapa. Anter aku pulang sekarang ya tom, aku cape. Aku mau istirahat” kataku sambil mengajak tommy pulang. Dan akhirnya aku pulang dan sesampainya dirumah, aku langsung memasuki kamarku dan aku menumpahkan segala tangisanku, amarahku, dan rasa kecewaku pada Ardi dikamarku. Aku begitu kecewa sampai tangisan pun tidak sanggup mewakili rasa kecewaku pada Ardi. Rasanya baru kemarin Ardi berjanji padaku tidak akan mengulang perbuatan yang sama saat Ardi melupakan aku sebagai sahabatnya, namun sekarang Ardi mungkin tidak mau kenal aku lagi sampai bisa bisanya dia berkata seperti itu padaku. Mungkin bagi Ardi aku hanya perempuan manja yang terus menerus menuntut perhatiannya, namun bagiku Ardi adalah sahabat yang merangkap kaka, teman, saudara. Aku begitu kesepian saat Ardi belum ada dikehidupanku, aku anak tunggal dan kedua orang tuaku sibuk mengurus pekerjaannya masing masing, mereka hanya pulang saat liburan meskipun saat liburan mereka tidak sepenuhnya ada disampingku.
            Satu taun yang lalu aku memiliki tetangga baru, dan tetangga baruku teryata memiliki anak laki laki yang seumuran denganku dan kebetulan kami bersekolah disekolah yang sama, sejak itu kami mulai dekat, keluarga Ardi sudah seperti keluargaku sendiri, terkadang orang tua Ardi sering mengajakku untuk makan malam bersama atau sekedar menghabiskan weekend bersama, hal yang tak pernah aku dapat dari orang tuaku terganti oleh hadirnya keluarga Ardi, keluarga keduaku. Kami sering menghabiskan waktu bersama sama, aku dan Ardi sering berjalan jalan ke pusat perbelanjaan yang ada dikota bandung bersama, kami sering mengerjakan PR bersama, bahkan kami melewati pergantian malam taun baru bersama. Tapi mengapa sekarang Ardi sampai melupakan hal hal yang telah kita lalui bersama, aku hanya ingin Ardi yang dulu bukan Ardi yang sekarang. Aku merasa penat dengan keadaanku yang sekarang, orang tuaku belum pulang dari tugasnya di luar negeri, sahabatku entah menghilang kemana, dan orang orang yang dekat denganku menjadi orang orag yang sangat asing belakangan ini. Saking penatnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah sebentar, hanya ingin menghirup udara segar, aku pun minta izin kepada mba ana orang rumah yang satu satunya tidak pergi meninggalkan aku sendiri jika orang tuaku pergi bekerja, orang yang telah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri, orang yang telah mengurusku dari mulai aku duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang aku duduk di bangku SMA. Mba Ana pun mengizinkan aku untuk berjalan jalan keluar rumah, karena mba Ana tau semua masalah yang sedang aku lalui.
            Aku mengambil kunci mobilku yang telah lama tidak ku sentuh karena dulu kemana mana aku selalu menaiki motor matic merah milik Ardi, kemanapun dan kapanpun. Sekarang aku kembali mengendarai mobil sedan silverku yang sudah jarang sekali aku gunakan. Aku masuk kedalam mobilku dan aku mulai menginjak gas dan aku meninggalkan rumah. Saat aku keluar dari rumahku, aku melihat motor matic merah terparkir didepan rumah Ardi, sejuta pertanyaan berkecambuk dihadapanku “Ardi ada dirumah ?” “kenapa Ardi ga mampir kerumahku hanya untuk sekedar mengajakku berkeliling komplek ?” namun saat mengingat ngingatnya kembali air mataku menetes kembali, dan aku memutuskan untuk mengabaikan segala pertanyaan bodohku, dan aku meneruskan perjalananku. Aku memutuskan untuk terus melakukan perjalanan, tak tau arahku akan pergi kemana. Dan aku sedang memikirkan suatu tempat yang rasanya dapat membuat fikiranku tenang untuk sementara. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut. Tak lama kemudian aku sampai ditempat tersebut, tempat yang sama saat Ardi pertama kali mengajakku pergi, karena saat itu aku sedang memikirkan kedua orang tuaku yang sepertinya sudah tidak peduli denganku lagi. Saat itu, Ardi mampir kerumahku dan dia melihatku sedang menangis tanpa banyak basa basi ditariknya tangkanku dan aku disuruh memakai helm abu abunya dan kami pergi ketempat tersebut. Tempat yang sama dengan tempat yang aku kunjungi sekarang, tempat ini memang pantas disebut dengan tempat pemulihan jiwa , karena disini jauh dari keramaian dan disini kita bebas mengekspresikan kesedihan kita , amarah kita, kekecewaan, bahkan rasa bahagia kita. tempat ini masih sama dengan tempat yang aku kunjungi satu tahun lalu dengan Ardi, pohon pohon masih rimbun, suara gemercik air masih terdengar, karena tidak jauh dari tempat ini ada mata air. Yaah semuanya masih sama persis, namun sayang keadaannya yang berbeda, satu tahun yang lalu aku tidak pergi ketempat ini sendiri, aku ditemana oleh sahabat laki laki yang saat ini benar benar aku rindukan, Ardi. Terakhir aku kesini bersama Ardi saat kami mendapat surat kelulusan, kami melampiaskan segala kebahagian kami ditempat ini. Dan sekarang, aku akan melampiaskan segala kesedihanku ditempat ini juga. Aku menangis sa=esuka hatiku, sampai aku lupa waktu, aku menangis disatu pohon yang pernah Ardi tulisi nama kita berdua, dan rupanya nama tersebut masih ada sampai sekarang, meskipun sudah tidak sejalas dulu lagi. Tak terasa hari sudah mulai gelap dan aku memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang aku meraasa benar benar sedih, karena satu persatu orang orang yang dekat denganku pergi menjauhiku, orang yang ada dihidupku sekarang seperti orang asing bagiku. Dan aku benar benar merindukan mereka. Aku ingin mereka semua akan datang padaku dengan sifat yang dulu, mamah, papah, tante rina, om roni, Ardi.

Rabu, 17 Agustus 2011

“pernahkah kau merasa, jarak antara kita ? kini semakin terasa, setelah kau kenal dia’'

          Aku sedang merebahkan diriku di tempat tidurku yang cukup nyaman ini untuk beristirahat. Namun saat sedang merebahkan diriku, mataku terpaku kepada foto 3x4 milikku yang sengaja aku pajang di vas fotoku, akupun mengambil foto tersebut dan aku terus memandangi foto tersebut. Di dalam foto tersebut ada seorang wanita dan seorang pria, wanita tersebut adalah diriku, sedangkan pria yang ada di foto tersebut adalah sahabat laki lakiku, sahabat laki laki yang baru kukenal satu tahun belakangan ini, pria tersebut bernama Ardi. Di foto tersebut terlihat segores kebahagian di senyum kami berdua. Kami telah saling kenal satu sama lain, Ardi sudah mengetahui segala kekuranganku, dan aku sudah tau segala kekurangan Ardi, dan layaknya seorang sahabat aku dan Ardi sama sama berusaha menutupi kekurangan kami satu sama lain. Aku terus memandangi foto tersebut, sambil tersenyum saat aku membayangkan pada waktu itu, aku dan Ardi sedang bermain berdua, kami memutuskan berjalan-jalan ke salah satu mall di bandung, kami melakukan banyak hal yang menyenangkan disana, kami bermain di tempat game, karena Ardi adalah penggila game, kami juga mengunjungi toko manga karena Ardi juga termasuk penggila manga, dan tempat yang wajib aku kunjungi adalah bookstore, kami mengunjungi tempat tersebut, dan setelah kami mengunjungi bookstore, aku memaksa Ardi untuk mau fotobox bersamaku untuk kenang-kenangan ucapku, dan akhirnya setelah membujuk Ardi dengan susah payah akhirnya Ardi luluh dengan bujukanku, akhirnya aku dan Ardi fotobox berdua, dan hasilnya sangat sangat memuaskan meskipun sangat memalukan melihat hasil fotonya, namun foto tersebut aku pajang didompetku, dan di vas fotoku di meja belajarku. Hmmm rasanya aku ingin mengulang hari itu. Namun tanpa terasa saat aku masih memandangi foto kami berdua, air mataku menetes perlahan membasahi pipiku. Akupun segera sadar dari lamunanku dan aku segera menghapus air mataku.
            Akhir akhir ini setiap kali aku melihat fotoku dengan Ardi aku selalu merindukan sosok sahabatku yang satu ini karena setelah dia memiliki kekasih, dia seperti sudah melupakanku. Tidak ada lagi sahabat laki laki yang selalu menyempatkan waktunya datang ke kelasku saat istirahat atau pulang sekolah hanya untuk menyapaku, menanyakan kabarku setiap pagi, tidak ada lagi sahabat laki laki yang selalu memberiku tawaran pulang bersama dengan motor kawasakinya. Aku sangat merindukan sosok sahabat yang ada di diri Ardi, sifat dewasanya yang selalu berusaha untuk melindungiku. Namun sekarang dia pergi dengan wanita yang dicintainya yang disayanginya bukan sebagai sahabat tetapi sebagai kekasih. Akhir akhir ini aku  merasakan ada jarak yang semakin semakin lebar yang dapat memisahkan atau lebih tepat menghancurkan persahabatanku dengan Ardi. Sampai suatu hari dia datang ke kelasku dengan merangkul pundak kekasihnya, dan saat aku melihat Ardi dengan Rita menghampiriku aku bergumam dalam hati “biasanya kamu yang ngerangkul pundak aku kalau kita mau pulang bareng” dan entah mengapa aku merasakan segores kepedihan dan amarah yang bergejolak didadaku, entah mengapa setiap Ardi membawa Rita untuk bertemu denganku aku sepertin ingin mencabik cabik Rita agar dia kapok dan tidak akan denkat dekat dengan Ardi. Saat aku sedang berkutat dengan khayalanku, aku dibuyarkan oleh suara Ardi yang benar benar aku rindukan. “hey, ngelamun terus” katanya sambil menepuk bahuku. Reflex aku langsung menoleh ke arahnya, namun benar saja ardi membawa rita. “ngelamun aja” sapa ardi sekali lagi, namun aku masih tetap diam tanpa bicara samil menatap mereka berdua yang saling bergandeng tangan. “ngapain kamu kesini ?’’ kataku dengan nada jutek sambil menghindari kontak mata dengan Ardi, karena aku merasa mataku panas dan pasti aku sudah mulai berkaca-kaca. “ko jutek banget sih nay ? aku cuman mau ngajak kamu jalan aja sama kita, kamunya malah kaya gini” kata Ardi padaku. “masih inget kamu sama sahabat kamu yang ga guna ini ? ngapain kamu ngajakin main kalau akhirnya aku cuman jadi kambing conge kamu sama dia” kataku sambil menunjuk kepada Rita. “oh gitu ? okey kalau mau kamu kaya gini” kata Adri pada ku. “misi aku mau pulang, urus aja sana cewe kamu gausah urusin urusan aku lagi” kataku padanya sambil berlari menabrak Ardi yang daritadi berada didepanku. Entah apa yang aku ucapkan tadi, emosiku begitu tinggi sampai aku tidak dapat berfikir jernih saat itu. Dan saat aku sedang berlari menujugerbang sekolah untuk pulang, aku tak sadar kalau aku sedang menangis sambil berlari karena aku begitu kecewa kepada sahabat laki lakiku yang selalu aku banggakan. Dan saking tidak konsennya aku menabrak temanku dan buku buku yang daritadi aku bawa ditanganku berantakan kemana-mana. “maaf, maaf akuga sengaja” katanya namun aku tidak menjawabnya aku masih sibuk merapihkan buku buku yang berantakan, dan sesekali aku berusaha mengahpus air mata ini namun ternyata percuma, air mataku masih belum berhenti. Setelah aku merapihkan buku buku tersebut, aku baru menjawab “iya gapapa, aku yang salah. Permisi” kataku sambil menatapnya dan masih berusaha menahan air mata yang sudah berontak ingin segera keluar dan mentes membasahi pipiku. “kamu nangis nay ? kenapa ? pulang bareng Ardi ?” katanya dan aku menjawab “engga ko aku ga nangis tadi kelilipan jadi perih, hah ? Ardi ? engga dia kan udah ada Rita jadi ngapain aku masih pulang bareng Ardi” jawabku dengan nada kesal saat tommy bertanya kepadaku. “nayla jangan bohong orang mata kamu berkaca-kaca gitu, pipi km basah gitu. Kenapa ? cerita sama aku aja. Ooh dikirain pulang sm ardi, aku anter kamu pulang ya ?” kata tommy. “beneran ko aku ga nangis, aku gapapa ko mi. hmmm boleh lagian aku juga gaada temen pulang ko” kataku sambil mencoba tersenyum kepada tommy dan tommy membalas senyumku. Namun setelah tommy berbalik untuk mengambil motornya aku kembali merasakan pedih ini “jadi Ardi lebih milih Rita ?” gumamku didalam hati.
            “ayo naik nay” kata tommy padaku “hmm iya tom bentar ya” kataku. Saat aku sedang merapihkan buku bukuku, aku melihat Ardi dan Rita menuju parkiran motor, dan aku tau sebenarnya Ardi melihatku namun Ardi berpura pura tidak melihatku dengan memfokuskan pandangannya pada Rita. Saat aku melihat Ardi kemarahan menyelimutiku lagi, namun saat ini air mataku tidak dapat diajak kompromi dan akhirnya air mata ini kembali menetes membanjiri pipiku sambil terus menatap Ardi yang masih asyik bercanda dengan Rita. “nay, ayo kita naik” kata tommy, suara tommy membuyarkan lamunanku, dan ternyata tommy menyadari kalau aku menangis dan aku menangis kembali saat aku melihat Ardi dan Rita. “hah ? oh iya tom ayo kita pulang” kataku kaget dan buru buru menaiki motor tommy, saat aku naik dan motor tommy mulai berjalan aku selalu melihat ke kaca spion motornya dan terus memerhatikan Ardi dan Rita, harusnya aku sadar itu hanya dapat membuat aku semakin kecewa dan aku akan semakin sedih, namun sepertinya pandanganku tidak mau berpaling melihat Ardi dan Rita sampai bayangan mereka hilang tak terlihat kembali di kaca spion. “biasanya pulang sekolah aku naik ninja hitamnya ardi, dibonceng sama kamu di, mampir beli cemilan sama kamu, kenapa kamu jadi kaya gini sih di ?” kataku bergumam kembali didalam hatiku. “nay, kalau kamu lagi ada masalah cerita aja sama aku ya, meskipun aku gabisa ngasih solusi seengganya kamu mungkin bakalan sedikit lega kalau udah cerita. Aku siap ko dengerin cerita kamu, aku juga bisa gantiin Ardi nay, dan aku juga bisa jadi lebih dari Ardi” kata tommy sambil memberhentikan motornya tepat didepan rumahku. “makasih ya tom, tapi aku mau sendiri dulu. Kalau aku masih belum bisa ngatasin masalah aku sendiri, pasti aku cerita ke kamu” kataku sambil turun dari motornya tommy dan aku langsung masuk rumah. Saat aku masuk rumah terdengar suara motor tommy meninggalkan gerbang rumahku.
            Aku memasuki kamarku dan saat aku memasuki kamar tangisku pecah saat melihat foto aku dan Ardi lagi. Aku mengambil foto tersebut lalu melemparnya sampai kaca fas fotonya pecah dan serpihan kaca tersebut bertebaran dimana mana. “kemana Ardi yang dulu ? kemana Ardi yang selalu ada buat aku ? kenapa kamu malah jauh gini sama aku, kenapa di ? kamu jahat di jahat banget. Katanya kita sahabat ? tapi kenapa waktu aku butuh kamu, kamu malah gaada ?” kataku terbata bata saat mengambil foto dari serpihan kata tersebut dan tanpa sengaja tanganku tergores oleh salah satu serpihan kaca tersebut dan setetes demi setetes darah menetes keluar dari telapak tangan sebelah kananku. Tangisku semakin pecah, namun perihnya tangan yang tergores oleh serpihan kaca tidak seperti perihnya hatiku karena telah kehilangan sahabatku yang benar benar aku sayangi. Tanpa aku sadar, ternyata Ardi sudah daritadi berada didepan pintu kamarku dan saat Ardi melihat aku menangis dan Ardi melihat tanganku yang brercucuran darah Ardi langsung menghampiriku dan Ardi langsung menatapku. Rupanya Ardi sudah daritadi berada di rumahku dan Ardi mendengar aku menangis dan menjerit kesakitan saat tanganku tergores serpihan kaca. Saat Ardi melihat aku menangis dan melihat tanganku yang berlumuran darah Ardi langsung memelukku erat dan sepertinya Ardi merasa bersalah saat melihatku seperti ini. “NAYLA.. NAYLA.. SADAR NAY !!” bentaknya saat melihatku yang tidak berhenti menangis dan darah yang tidak berhenti menetes dari tanganku. Akhirnya saat sudah dibntak Ardi aku bisa sadar dan mengatur tangisanku. “kamu jahat di, kamu jahat. Ngapain kamu kesini ? sana aja main sama Rita, aku ga butuh kamu disini di. Aku benci tau sama kamu ! benci di benci !” kataku sambil memukul mukul Ardi, dengan tangan kiriku. “nayla, maafin aku nay maaf ! aku tau aku salah, aku tau belakangan ini aku terlalu sibuk sama Rita, sampe aku gapunya waktu buat sahabat aku, sampe aku ga punya waktu buat ade aku sendiri. Maaf nay maafin aku” kata Ardi sambil menatapku dan berusaha menenangkanku. Aku tidak dapat menjawab apa apa karena aku masih belum bisa mengatur tangisku yang meledak semenjak Ardi ada disini. “udah dong nay berhenti nangisnya, sini aku obatin tangannya ya nay” kata Ardi sambil membujukku dan sambil mengambil alat alat p3k yang ada di meja belajarku. Ardi mengobati tanganku dengan sangat berhati hati, dan saat Ardi mengobati tanganku aku mulai berhenti menangis dan saat Ardi sudah selesai mengobatiku aku sudah berhenti menangis.
Mulai saat itu ardi berjanji padaku bahwa dia akan lebih memproriaritaskanku dari pada rita. Yah, aku selalu berharap Ardi dapat selalu mengingat janjinya padaku, meskipun aku ragu apakah dia akan selalu menepati janjinya atau itu hanya sekedar janji palsu yang Ardi buat buat hanya untuk membuatku lebih tenang.