Aku sedang merebahkan diriku di tempat tidurku yang cukup nyaman ini untuk beristirahat. Namun saat sedang merebahkan diriku, mataku terpaku kepada foto 3x4 milikku yang sengaja aku pajang di vas fotoku, akupun mengambil foto tersebut dan aku terus memandangi foto tersebut. Di dalam foto tersebut ada seorang wanita dan seorang pria, wanita tersebut adalah diriku, sedangkan pria yang ada di foto tersebut adalah sahabat laki lakiku, sahabat laki laki yang baru kukenal satu tahun belakangan ini, pria tersebut bernama Ardi. Di foto tersebut terlihat segores kebahagian di senyum kami berdua. Kami telah saling kenal satu sama lain, Ardi sudah mengetahui segala kekuranganku, dan aku sudah tau segala kekurangan Ardi, dan layaknya seorang sahabat aku dan Ardi sama sama berusaha menutupi kekurangan kami satu sama lain. Aku terus memandangi foto tersebut, sambil tersenyum saat aku membayangkan pada waktu itu, aku dan Ardi sedang bermain berdua, kami memutuskan berjalan-jalan ke salah satu mall di bandung, kami melakukan banyak hal yang menyenangkan disana, kami bermain di tempat game, karena Ardi adalah penggila game, kami juga mengunjungi toko manga karena Ardi juga termasuk penggila manga, dan tempat yang wajib aku kunjungi adalah bookstore, kami mengunjungi tempat tersebut, dan setelah kami mengunjungi bookstore, aku memaksa Ardi untuk mau fotobox bersamaku untuk kenang-kenangan ucapku, dan akhirnya setelah membujuk Ardi dengan susah payah akhirnya Ardi luluh dengan bujukanku, akhirnya aku dan Ardi fotobox berdua, dan hasilnya sangat sangat memuaskan meskipun sangat memalukan melihat hasil fotonya, namun foto tersebut aku pajang didompetku, dan di vas fotoku di meja belajarku. Hmmm rasanya aku ingin mengulang hari itu. Namun tanpa terasa saat aku masih memandangi foto kami berdua, air mataku menetes perlahan membasahi pipiku. Akupun segera sadar dari lamunanku dan aku segera menghapus air mataku.
Akhir akhir ini setiap kali aku melihat fotoku dengan Ardi aku selalu merindukan sosok sahabatku yang satu ini karena setelah dia memiliki kekasih, dia seperti sudah melupakanku. Tidak ada lagi sahabat laki laki yang selalu menyempatkan waktunya datang ke kelasku saat istirahat atau pulang sekolah hanya untuk menyapaku, menanyakan kabarku setiap pagi, tidak ada lagi sahabat laki laki yang selalu memberiku tawaran pulang bersama dengan motor kawasakinya. Aku sangat merindukan sosok sahabat yang ada di diri Ardi, sifat dewasanya yang selalu berusaha untuk melindungiku. Namun sekarang dia pergi dengan wanita yang dicintainya yang disayanginya bukan sebagai sahabat tetapi sebagai kekasih. Akhir akhir ini aku merasakan ada jarak yang semakin semakin lebar yang dapat memisahkan atau lebih tepat menghancurkan persahabatanku dengan Ardi. Sampai suatu hari dia datang ke kelasku dengan merangkul pundak kekasihnya, dan saat aku melihat Ardi dengan Rita menghampiriku aku bergumam dalam hati “biasanya kamu yang ngerangkul pundak aku kalau kita mau pulang bareng” dan entah mengapa aku merasakan segores kepedihan dan amarah yang bergejolak didadaku, entah mengapa setiap Ardi membawa Rita untuk bertemu denganku aku sepertin ingin mencabik cabik Rita agar dia kapok dan tidak akan denkat dekat dengan Ardi. Saat aku sedang berkutat dengan khayalanku, aku dibuyarkan oleh suara Ardi yang benar benar aku rindukan. “hey, ngelamun terus” katanya sambil menepuk bahuku. Reflex aku langsung menoleh ke arahnya, namun benar saja ardi membawa rita. “ngelamun aja” sapa ardi sekali lagi, namun aku masih tetap diam tanpa bicara samil menatap mereka berdua yang saling bergandeng tangan. “ngapain kamu kesini ?’’ kataku dengan nada jutek sambil menghindari kontak mata dengan Ardi, karena aku merasa mataku panas dan pasti aku sudah mulai berkaca-kaca. “ko jutek banget sih nay ? aku cuman mau ngajak kamu jalan aja sama kita, kamunya malah kaya gini” kata Ardi padaku. “masih inget kamu sama sahabat kamu yang ga guna ini ? ngapain kamu ngajakin main kalau akhirnya aku cuman jadi kambing conge kamu sama dia” kataku sambil menunjuk kepada Rita. “oh gitu ? okey kalau mau kamu kaya gini” kata Adri pada ku. “misi aku mau pulang, urus aja sana cewe kamu gausah urusin urusan aku lagi” kataku padanya sambil berlari menabrak Ardi yang daritadi berada didepanku. Entah apa yang aku ucapkan tadi, emosiku begitu tinggi sampai aku tidak dapat berfikir jernih saat itu. Dan saat aku sedang berlari menujugerbang sekolah untuk pulang, aku tak sadar kalau aku sedang menangis sambil berlari karena aku begitu kecewa kepada sahabat laki lakiku yang selalu aku banggakan. Dan saking tidak konsennya aku menabrak temanku dan buku buku yang daritadi aku bawa ditanganku berantakan kemana-mana. “maaf, maaf akuga sengaja” katanya namun aku tidak menjawabnya aku masih sibuk merapihkan buku buku yang berantakan, dan sesekali aku berusaha mengahpus air mata ini namun ternyata percuma, air mataku masih belum berhenti. Setelah aku merapihkan buku buku tersebut, aku baru menjawab “iya gapapa, aku yang salah. Permisi” kataku sambil menatapnya dan masih berusaha menahan air mata yang sudah berontak ingin segera keluar dan mentes membasahi pipiku. “kamu nangis nay ? kenapa ? pulang bareng Ardi ?” katanya dan aku menjawab “engga ko aku ga nangis tadi kelilipan jadi perih, hah ? Ardi ? engga dia kan udah ada Rita jadi ngapain aku masih pulang bareng Ardi” jawabku dengan nada kesal saat tommy bertanya kepadaku. “nayla jangan bohong orang mata kamu berkaca-kaca gitu, pipi km basah gitu. Kenapa ? cerita sama aku aja. Ooh dikirain pulang sm ardi, aku anter kamu pulang ya ?” kata tommy. “beneran ko aku ga nangis, aku gapapa ko mi. hmmm boleh lagian aku juga gaada temen pulang ko” kataku sambil mencoba tersenyum kepada tommy dan tommy membalas senyumku. Namun setelah tommy berbalik untuk mengambil motornya aku kembali merasakan pedih ini “jadi Ardi lebih milih Rita ?” gumamku didalam hati.
“ayo naik nay” kata tommy padaku “hmm iya tom bentar ya” kataku. Saat aku sedang merapihkan buku bukuku, aku melihat Ardi dan Rita menuju parkiran motor, dan aku tau sebenarnya Ardi melihatku namun Ardi berpura pura tidak melihatku dengan memfokuskan pandangannya pada Rita. Saat aku melihat Ardi kemarahan menyelimutiku lagi, namun saat ini air mataku tidak dapat diajak kompromi dan akhirnya air mata ini kembali menetes membanjiri pipiku sambil terus menatap Ardi yang masih asyik bercanda dengan Rita. “nay, ayo kita naik” kata tommy, suara tommy membuyarkan lamunanku, dan ternyata tommy menyadari kalau aku menangis dan aku menangis kembali saat aku melihat Ardi dan Rita. “hah ? oh iya tom ayo kita pulang” kataku kaget dan buru buru menaiki motor tommy, saat aku naik dan motor tommy mulai berjalan aku selalu melihat ke kaca spion motornya dan terus memerhatikan Ardi dan Rita, harusnya aku sadar itu hanya dapat membuat aku semakin kecewa dan aku akan semakin sedih, namun sepertinya pandanganku tidak mau berpaling melihat Ardi dan Rita sampai bayangan mereka hilang tak terlihat kembali di kaca spion. “biasanya pulang sekolah aku naik ninja hitamnya ardi, dibonceng sama kamu di, mampir beli cemilan sama kamu, kenapa kamu jadi kaya gini sih di ?” kataku bergumam kembali didalam hatiku. “nay, kalau kamu lagi ada masalah cerita aja sama aku ya, meskipun aku gabisa ngasih solusi seengganya kamu mungkin bakalan sedikit lega kalau udah cerita. Aku siap ko dengerin cerita kamu, aku juga bisa gantiin Ardi nay, dan aku juga bisa jadi lebih dari Ardi” kata tommy sambil memberhentikan motornya tepat didepan rumahku. “makasih ya tom, tapi aku mau sendiri dulu. Kalau aku masih belum bisa ngatasin masalah aku sendiri, pasti aku cerita ke kamu” kataku sambil turun dari motornya tommy dan aku langsung masuk rumah. Saat aku masuk rumah terdengar suara motor tommy meninggalkan gerbang rumahku.
Aku memasuki kamarku dan saat aku memasuki kamar tangisku pecah saat melihat foto aku dan Ardi lagi. Aku mengambil foto tersebut lalu melemparnya sampai kaca fas fotonya pecah dan serpihan kaca tersebut bertebaran dimana mana. “kemana Ardi yang dulu ? kemana Ardi yang selalu ada buat aku ? kenapa kamu malah jauh gini sama aku, kenapa di ? kamu jahat di jahat banget. Katanya kita sahabat ? tapi kenapa waktu aku butuh kamu, kamu malah gaada ?” kataku terbata bata saat mengambil foto dari serpihan kata tersebut dan tanpa sengaja tanganku tergores oleh salah satu serpihan kaca tersebut dan setetes demi setetes darah menetes keluar dari telapak tangan sebelah kananku. Tangisku semakin pecah, namun perihnya tangan yang tergores oleh serpihan kaca tidak seperti perihnya hatiku karena telah kehilangan sahabatku yang benar benar aku sayangi. Tanpa aku sadar, ternyata Ardi sudah daritadi berada didepan pintu kamarku dan saat Ardi melihat aku menangis dan Ardi melihat tanganku yang brercucuran darah Ardi langsung menghampiriku dan Ardi langsung menatapku. Rupanya Ardi sudah daritadi berada di rumahku dan Ardi mendengar aku menangis dan menjerit kesakitan saat tanganku tergores serpihan kaca. Saat Ardi melihat aku menangis dan melihat tanganku yang berlumuran darah Ardi langsung memelukku erat dan sepertinya Ardi merasa bersalah saat melihatku seperti ini. “NAYLA.. NAYLA.. SADAR NAY !!” bentaknya saat melihatku yang tidak berhenti menangis dan darah yang tidak berhenti menetes dari tanganku. Akhirnya saat sudah dibntak Ardi aku bisa sadar dan mengatur tangisanku. “kamu jahat di, kamu jahat. Ngapain kamu kesini ? sana aja main sama Rita, aku ga butuh kamu disini di. Aku benci tau sama kamu ! benci di benci !” kataku sambil memukul mukul Ardi, dengan tangan kiriku. “nayla, maafin aku nay maaf ! aku tau aku salah, aku tau belakangan ini aku terlalu sibuk sama Rita, sampe aku gapunya waktu buat sahabat aku, sampe aku ga punya waktu buat ade aku sendiri. Maaf nay maafin aku” kata Ardi sambil menatapku dan berusaha menenangkanku. Aku tidak dapat menjawab apa apa karena aku masih belum bisa mengatur tangisku yang meledak semenjak Ardi ada disini. “udah dong nay berhenti nangisnya, sini aku obatin tangannya ya nay” kata Ardi sambil membujukku dan sambil mengambil alat alat p3k yang ada di meja belajarku. Ardi mengobati tanganku dengan sangat berhati hati, dan saat Ardi mengobati tanganku aku mulai berhenti menangis dan saat Ardi sudah selesai mengobatiku aku sudah berhenti menangis.
Mulai saat itu ardi berjanji padaku bahwa dia akan lebih memproriaritaskanku dari pada rita. Yah, aku selalu berharap Ardi dapat selalu mengingat janjinya padaku, meskipun aku ragu apakah dia akan selalu menepati janjinya atau itu hanya sekedar janji palsu yang Ardi buat buat hanya untuk membuatku lebih tenang.
Mulai saat itu ardi berjanji padaku bahwa dia akan lebih memproriaritaskanku dari pada rita. Yah, aku selalu berharap Ardi dapat selalu mengingat janjinya padaku, meskipun aku ragu apakah dia akan selalu menepati janjinya atau itu hanya sekedar janji palsu yang Ardi buat buat hanya untuk membuatku lebih tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar